{Book Review) DILAN BAGIAN KEDUA




Judul Buku : DILAN BAGIAN KEDUA
DIA ADALAH DILANKU TAHUN 1991
Penulis : Pidi Baiq
Penerbit: Pastel Books
Tahun terbit : 2015
Cetakan : Ketiga
Tebal : 344 Halaman
ISBN : 978-602-7870-99-4
***
Blurb
“Jika aku berkata bahwa aku mencintainya, maka itu adalah sebuah pernyataan yang sudah cukup lengkap.”
--Milea--

“Senakal-nakalnya anak geng motor, Lia, mereka shalat pada waktu ujian praktek agama”
--Dilan--
*****

Dilan bagian kedua ini menceritakan kisah percintaan antara Milea Adnan Hussain dengan Dilan setela mereka jadian. Buku ini memang kelanjutan dari Dilan bagian pertama. Dimana Dilan bagian pertama tentang masa-masa pendekatan yang penuh dengan ke-absurd-an Dilan. Di buku ini Dilan masih tetap menjadi kapten dari salah satu genk motor yang berada di Bandung. Permasalah di Dilan bagian pertama menjadi cikal bakal permasalahan di bagian buku ini.
Permasalahannya dengan Anhar yang pernah menampar Lia (dijelaskan di Dilan bagian pertama) berkelanjutan. Dilan yang tidak suka dikekang dan Lia (panggilan dari Milea) yang tidak suka jika Dilan berkelahi.
Ancaman putus yang diucapkan Lia tak berarti apa-apa bagi Dilan apalagi setelah kematian Akew sahabat Dilan.
Cukup seperti itu saja ringkasannya, karena aku rasa semua orang sudah tahu bagimana ending dari Dilan ini.
Gaya penulisannya cukup unik, penulis atau biasa disebut Ayah Pidi Baiq ini mengemasnya dengan apik, cerita ini menceritakan tentang Dilan dari sudut pandang Milea, perlu dua buku yang tebal untuk menceritakan tentang Dilan dari seorang Milea. Aku berfikir kalau cerita Dilan ini memang cerita asli dari penulis, penggambarannya begitu jelas dan detail.
Kisah ini masih sama dengan kisah sebelumnya yang menceritakan masa mereka masih SMA di tahun 1991, jadi cerita ini semacam flash back  dengan suasana Bandung jaman dahulu, dan semuanya.
Di bagian kedua ini ada beberapa tokoh baru yang gencar mendekati Lia. Dan aku suka cerita ini permasalahan mereka bukan tentang orang ketiga yang hadir diantara mereka tetapi lebih kepada ego mereka masing-masing. Ego seorang anak SMA kalau kata orang-orang masih meletup-letup, pancing sedikit langsung kena katanya seperti itu. Selain itu semua tokoh dalam cerita ini sangat menghormati orang tua.
Tapi sayang kelucuan Dilan disini tidak sebanyak pada bagian pertama, di sini lebih banyak adegan sedihnya.
Banyak adegan yang aku suka dalam cerita ini, karena perasaan aku terlibat sepenuhnya saat membaca cerita ini. Jangan tanya aku nangis apa nggak?
Tapi paling lucu dan tidak bisa aku bayangkan adalah waktu Dilan datang ke rumah Lia, dimana saat itu juga ada Kang Adi yang dalam cerita memang naksir Lia. Tau apa yang Dilan lakukan di rumah Lia? Marah-marah ke Kang Adi atau menarik Lia ke luar rumah. Karena Dilan ini termasuk orang yang antimainstream dia pasti melakukan hal-hal di luar pemikaran orang pada umumnya. Dilan datang bersama dengan beberapa temannya untuk melakukan syukuran kerena sudah jadian dengan Lia. Kebayangkan wajah Kang Adi gimana? Satu kata untuk Dilan “KEREN”.
Karena aku rasa waktu menulisnya cerita sangat menggunakan hati banget, aku rasa semua tulisan disini sangat mengena di hati. Semua yang keluar dari Dilan ataupun Lia semuanya mengena, tapi tetap ada yang paling di suka bukan? Benar itu. Dan aku paling suka dengan yang ini ;
Kalau dulu aku pernah berkata bahwa aku mencintai dirimu,
maka ku kira itu adalah sebuah pernyataan yang sudah cukup lengkap
dan berlaku tidak hanya sampai hari itu,
melainkan juga di hari ini dan untuk selama-lamanya.
Karena, sekarang aku mungkin bukan aku yang dulu,
waktu membawa aku pergi, tetapi perasaan tetap sama,
bersifat menjalar, hingga ke depan.”
(Halaman 343)
Buat Milea dan Lia Lia yang sedang berada di sudut kamar masing-masing di wilayah Indonesia, aku tahu dengan pasti bagaimana perasaan mu, mesti berat apalagi kalian putus bukan karena ego muda kalian. Merindukan itu berat tapi melupakan jauh lebih berat.
Pesan buat kalian para muda mudi, belajar dari Milea dan Dilan jika ada masalah jangan menggunakan kata ‘putus’ sebagai sejata pamungkas ya? Tidak perlu membuktikan karena Milea sudah membuktikannya dan itu sudah cukup.
Dan buat kalian-kalian para cowok yang katanya ingin berbeda dengan yang lain, belajarlah dari Dilan. Dilan romantis dengan caranya sendiri. Dilan asyik dengan caranya sendiri. Unik dan berbeda. Jadi belajarlah dari Dilan agar setidaknya itu membekas di hati mantan-mantan kalian.
Akhirnya setelah sekian lama buku ini menumpuk di deretan buku dan aku tidak mau memegang sama sekali buku ini, karena ending-nya yang diluar keinginan ku dan setelah mengumpulkan kekuatan akhirnya aku bisa membaca sampai selesai buku ini. Aku terlalu emosional saat mengetahui ending-nya. Tapi standing applus  buat Ayah yang membuat aku tahu bahwa novel memang bisa sesuai realita.
Buat Dilan Dilan yang lain dan juga Milea Milea yang lain, kalian saling mencintai tapi tidak bisa bersama dunia tidak akan berhenti tetapi akan terus berjalan dan kalian harus bahagia dengan cara kalian sendiri.
Dan aku kasih 4 bintang untuk Dilan Bagian kedua ini.

Posting Komentar

0 Komentar