{CUPLIKAN} SPESIAL BAB PERTAMA NOVEL OVERTIME - NATHALIA THEODORA PART 2



Sudah gak sabar menunggu postingan part selanjutnya.
Bagaimana kesan-kesan kalian membaca part sebelumnya.
Baik-baik, aku tahu kalian sudah tidak sabar menunggu cerita selanjutnya.
Tanpa menunda-nunda lagi, aku persembahakan secara khusus buat kalian semua, kelanjutkan dari bab pertama novel OVERTIME.
Selamat membaca,



 Tyler menatap adiknya dengan mata disipitkan. Di sebelahnya, Lori—asisten pribadinya—hanya berdiri dengan raut tegang, seperti yang biasa terjadi apabila kebetulan dia harus menyaksikan pertemuan kakak-beradik itu.


Lori memiliki alasan untuk merasa tegang. Tyler memang tidak akrab dengan adiknya, dan pertemuan mereka juga tidak pernah ber-jalan mulus. Mereka selalu saja ribut, meski sebagian besar disebabkan oleh adiknya.

Christopher membenci Tyler, dan Tyler tahu jelas kenapa. Tapi dia juga tidak pernah berusaha membuat Christopher menyukainya. Kalau Christopher memang mau membencinya, ya sudah, itu kerugiannya.

“Lo nggak kerja lagi hari ini?” tanya Tyler pada Christopher, karena melihat adiknya hanya mengenakan kaus putih dan celana jin hitam. Berkebalikan sekali dengannya, yang mengenakan kemeja putih dilapisi jas hitam, lengkap dengan dasi hitam, dan celana bahan hitam.

Christopher hanya mendengus sebagai jawabannya. Seakan tidak mau berlama-lama berdiri di depan kakaknya, dia langsung melanjutkan langkahnya melintasi lobi.

Tyler menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah adiknya. En-tah sampai kapan Christopher akan bersikap kekanak-kanakan begitu.

“Dia tidur di penthouse lagi?” tanya Tyler pada Lori.

Lori mengangguk. “Sudah beberapa hari ini dia tidur di sana,” ka-tanya. “Dan dia selalu bawa gadis yang berbeda tiap malamnya.”

Tyler mendesah. “Nggak mau kerja, dan malah main perempuan begitu,” gumamnya. “Pak Denny akan melahapnya habis-habisan, ka-lau sampai dia tahu.” Yang disebutnya itu adalah nama general manager Hotel Nevenka.

“Saya akan usahakan supaya Pak Denny nggak tahu,” kata Lori, memasang tampang bersekongkol.

Mereka akhirnya melanjutkan langkah mereka melintasi lobi ber-jalan ke arah lift, dan naik ke lantai tiga. Ruang kerja Tyler berada di lantai itu.

Ruang kerja Tyler sangat luas, dengan meja logam besar yang ter-letak membelakangi kaca, dan sebuah rak buku di sebelah kirinya. Di seberang kirinya, terdapat ruang rapat kecil, yang hanya terdiri dari em-pat sofa hitam dan meja kopi. Sedangkan di seberang kanannya, terda-pat rak logam, di mana beberapa pigura foto yang salah satunya berisi kover majalah TIME yang menampilkan dirinya, sedangkan sisanya berisi foto-fotonya dengan berbagai tokoh terkemuka, serta beberapa pajangan keramik, berada.

Tyler duduk di kursinya, sementara Lori hanya berdiri di depan me-janya, bersiap membacakan jadwal Tyler untuk hari ini.

“Jam sepuluh, kamu harus mewawancarai calon pengganti saya,” mulai Lori, membuat Tyler langsung mengerang.

“Kamu harusnya nggak mengingatkan saya,” keluh Tyler. “Saya


sedang berusaha melupakan fakta bahwa kamu akan segera pergi dari saya.”

Lori tertawa. “Kamu akan mendapatkan yang lebih baik dari saya.” “Saya nggak yakin,” gerutu Tyler. “Kenapa Hendrik harus merebut
kamu dari saya?”

Tawa Lori berlanjut. “Karena dia akan menikahi saya,” katanya. “Dia nggak ingin saya bekerja.”

“Memangnya kenapa kalau wanita bekerja?”

Lori mengangkat bahu. “Dia hanya ingin saya fokus mengurus ru-mah kami nanti,” katanya. “Dan, tentu saja, anak kami nanti.”

“Well, saya nggak bisa berkomentar lagi kalau soal itu,” kata Tyler. “Tapi, Lori.” Wajahnya berubah serius. “Saya benar-benar mendoakan kebahagiaan kamu.”

Wajah Lori langsung berseri-seri. “Thanks, Ty,” katanya. “Jangan lupa ya datang ke pernikahan kami nanti.”

“Absolutely.”

Lori lalu kembali membacakan jadwal Tyler. “Jam dua belas, kamu ada lunch meeting dengan Pak Denny,” lanjutnya. “Lalu jam dua, kamu ada meeting dengan divisi sales & marketing, dilanjutkan meeting de-ngan divisi food & beverage. Dokumen-dokumen yang harus kamu tanda tangani ada di meja saya, akan saya susun dulu sebelum saya kasih ke kamu.”

Tyler mengurut-urut pelipisnya, merasa lelah bahkan hanya de-ngan mendengar daftar rapat yang harus dihadirinya. “Oke,” desahnya. “Kamu kembali saja ke mejamu.”

Lori pun pamit, meninggalkan Tyler seorang diri di ruangannya. Dengan Lori yang begitu cekatan menjadi asisten pribadinya, Tyler ber-harap calon penggantinya pun sama cekatannya.






 ***----***

Tahan napas sejenak dan hembuskan.
Segitu dulu untuk part hari ini, kita lanjutkan besok yaa...bagaimana sudah punya gambaran Tyler, Chris, Lori dan siapakah nanti yang bakalan jadi sekretaris Tyler? aku penasaran bagaimana nanti alurnya cerita ini. 

Sampai ketemu esok dan semoga hari mu menyenangkan.
By by by



bagi teman-teman yang ingin membaca kisah ini secara lengkap dan menjadi orang yang pertama membaca kisah mereka, masa PO buku ini masih dibuka, dan terakhir nanti di tanggal 31 Agustus 2018. jadi bagi kalian yang minat bisa langsung hubungi ke TWIGORA yaa. cek banner di bawah ini : 


Posting Komentar

1 Komentar

Terima kasih telah membaca sampai selesai.
Mohon maaf sebelumnya, kolom komentar aku moderasi.
jadi komentar kalian tidak akan langsung muncul, nunggu aku setujui dulu baru bisa terlihat.
tinggalkan komentar dan senang berkenalan dengan kalian

Close Menu